Saya yakin semua orang telah familier dengan kata
“kerja bakti“, yang sejak bangku sekolah, kuliah hingga kini,
jenis kata ini kerap kali kita dengar bahkan kira rasakan sendiri. Kerja bakti
merupakan perpaduan dua kata antara kerja dan bakti yang campur dadi siji,
hingga menjadi sebuah kosa kata baru yang memiliki arti yang cukup apik, “kerja
gotong royong tanpa upah atau imbalan, untuk kepentingan bersama”.
![]() |
| Pembuatan tanggul di depan gerbang Pangrango |
Nah, di tengah hegemoni prilaku Individualistis
masyarakat Indonesia yang begitu kental saat ini, ternyata sensasi rasa “kerja
bakti” masih tersaji dilingkungan perumahan tepatnya di cluster Pangrango Grand Kahuripan Rt 05 Rw 06 Ds. Dayeuh yang pagi ini
melangsungkan “kerja bakti”
Memang jika saya
rasakan, suasana kerja bakti saat ini berbeda jauh dengan beberapa waktru lalu
dimana warga begitu anthusiasnya, ingin menyuguhkan performa positif yang ada
dalam dirinya, hingga rela mengorbankan berbagai keperluan pribadinya, untuk
suksesnya kegiatan kerja bakti yang ada, tak peduli orang tua, mereka yang
masih lajang ataupun anak-anak, untuk berkumpul bersama menjadi satu, agar
dapat membaur menyedekahkan tenaga dan pikirannya, dalam gelaran acara kerja
bakti yang telah di adakan warga.
Namun meski suasana kerja bakti saat ini berbeda
jauh dengan kahanan masa lalu, saya selalu berpikir positif bahwasanya apa yang
dilakukan oleh warga saat minggu pagi ini,
merupakan salah satu proses pembelajaran, untuk mewujudkan serta merealisasikan
sebuah wadah edukasi yang kini mulai terkikis habis di bumi pertiwi, di kala
hegemoni individualisme kerap kali menggerogoti seluruh dimensi masyarakat dari
Sabang hingga ke Merauke, menembus batas ke pelosok Nusantara.
Kerja bakti tetap menjadi aplikasi
kearifan lokal warga Pribumi
![]() |
| kerja bakti moga menjadi tradisi |
![]() |
| tetap semangat meski hujan...... |
Yah, demikianlah kiranya makna filosofi yang
tersemat di dalam kerja bakti. Nilai-nilai di dalam kerja baktipun sungguh
mulia dan tinggi. Kerja bakti telah di contohkan para pendahulu bangsa ini. Dan
mereka melakukan kerja bakti dalam segala aspek kehidupan dengan tujuan saling
melengkapi dan berbagi. Sehingga pekerjaan yang awalnya di nilai tak mungkin
teratasi, namun dengan kerja bakti sungguh dapat terealisasi.
Untuk itu sebagai generasi muda masa kini, mari
kita bersama-sama nguri-uri warisan budaya apik yang telah di jalankan warga
pribumi di tanah air ini sampai masa bakti hidup ini usai. Menjaga dan
mengaplikasikan kerja bakti sebagai sebuah tradisi jelas lebih baik dari pada
mengedepankan hegemoni individualisme yang justru kerap kali merusak hubungan
sosial masyarakat, kekerabatan dan persatuan juga kesatuan bangsa.
www.blogdetik.com
![]() |
| merapihkan pos....merapihkan kebersamaan |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar