Kamis, 12 September 2013

kerja bakti




Saya yakin semua orang telah familier dengan kata “kerja bakti“, yang sejak bangku sekolah, kuliah hingga kini, jenis kata ini kerap kali kita dengar bahkan kira rasakan sendiri. Kerja bakti merupakan perpaduan dua kata antara kerja dan bakti yang campur dadi siji, hingga menjadi sebuah kosa kata baru yang memiliki arti yang cukup apik, “kerja gotong royong tanpa upah atau imbalan, untuk kepentingan bersama”.
Pembuatan tanggul di depan gerbang Pangrango
Nah, di tengah hegemoni prilaku Individualistis masyarakat Indonesia yang begitu kental saat ini, ternyata sensasi rasa “kerja bakti” masih tersaji dilingkungan perumahan tepatnya di cluster Pangrango Grand Kahuripan Rt 05 Rw 06 Ds. Dayeuh yang pagi ini melangsungkan “kerja bakti”

Memang jika saya rasakan, suasana kerja bakti saat ini berbeda jauh dengan beberapa waktru lalu  dimana warga begitu anthusiasnya, ingin menyuguhkan performa positif yang ada dalam dirinya, hingga rela mengorbankan berbagai keperluan pribadinya, untuk suksesnya kegiatan kerja bakti yang ada, tak peduli orang tua, mereka yang masih lajang ataupun anak-anak, untuk berkumpul bersama menjadi satu, agar dapat membaur menyedekahkan tenaga dan pikirannya, dalam gelaran acara kerja bakti yang telah di adakan warga.
Namun meski suasana kerja bakti saat ini berbeda jauh dengan kahanan masa lalu, saya selalu berpikir positif bahwasanya apa yang dilakukan oleh warga saat minggu pagi ini, merupakan salah satu proses pembelajaran, untuk mewujudkan serta merealisasikan sebuah wadah edukasi yang kini mulai terkikis habis di bumi pertiwi, di kala hegemoni individualisme kerap kali menggerogoti seluruh dimensi masyarakat dari Sabang hingga ke Merauke, menembus batas ke pelosok Nusantara.

Kerja bakti tetap menjadi aplikasi kearifan lokal warga Pribumi
kerja bakti moga menjadi tradisi
tetap semangat meski hujan......
Seperti kita ketahui bersama, Bangsa Indonesia sebagai warga pribumi di tanah air yang kita cintai ini, memiliki beragam kearifan lokal yang telah turun-temurun diwariskan dari generasi ke generasi. Dan kerja bakti merupakan salah satu wujud dari kearifan lokal pribumi, yang dari masa nenek moyang dahulu, telah di tambatkan di dalam hati, dan terpatri mulia hingga tubuh ini mati. Perhatikanlah dengan baik, dimana kerja bakti menyimpan pesan yang sarat akan nilai edukasi. Dengan kerja bakti, ikatan keluarga kian tersambung rapih, kesusahan yang dialami dapat terobati, dan pekerjaan yang berat akan terasa ringan karena dilakukan secara bersama-sama dengan senang hati.
Yah, demikianlah kiranya makna filosofi yang tersemat di dalam kerja bakti. Nilai-nilai di dalam kerja baktipun sungguh mulia dan tinggi. Kerja bakti telah di contohkan para pendahulu bangsa ini. Dan mereka melakukan kerja bakti dalam segala aspek kehidupan dengan tujuan saling melengkapi dan berbagi. Sehingga pekerjaan yang awalnya di nilai tak mungkin teratasi, namun dengan kerja bakti sungguh dapat terealisasi.
Untuk itu sebagai generasi muda masa kini, mari kita bersama-sama nguri-uri warisan budaya apik yang telah di jalankan warga pribumi di tanah air ini sampai masa bakti hidup ini usai. Menjaga dan mengaplikasikan kerja bakti sebagai sebuah tradisi jelas lebih baik dari pada mengedepankan hegemoni individualisme yang justru kerap kali merusak hubungan sosial masyarakat, kekerabatan dan persatuan juga kesatuan bangsa.
www.blogdetik.com

merapihkan pos....merapihkan kebersamaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar